2013. december 10., kedd

6 versions of my poem

„The Ears”, English, Hungarian, Bulgarian, and three different Indonesian translations.
The Ears

As if my ears were the sacraments, a crowd
appears, appears before them. Lucky
I have nice big ears.
Deep and hollow.
The hip and breast sizes are coming.

Here comes the lonely one. She wants my husband.
Here comes the housewife. She's married, frigid.
When she doesn't come, she learns languages,
travels.
The lesbian? Doesn't come at all. Though

I would seduce her. If nothing comes of it, my
Ears would perk themselves. (Big as they are.)
Feminine women I don't invite on principle.
Nor any men. I go
to them.

But all they want is my ears.
And the mouths? Nonstop talkers.
And my ears? My ears are mute.
I change only my earrings from time to time.
My ears are mine.

(Translated by Michael Castro and Gábor G. Gyukics)


A fül

Mintha egy szentélyhez járulnának, úgy
jönnek, jönnek a füleimhez. Még jó,
hogy szép nagy füleim vannak.
Mélyek, öblösek.
Jönnek a csípő- és kebelméretek.

Jön a magányos. Neki a férjem kell.
Jön a családanya. Ő férjezett, frigid.
Ha éppen nem jön, nyelveket
tanul, meg utazik.
A leszbikus? Ő el se jön. Pedig őt

elcsábítanám. Jobb híján a fülem
hegyezné önmagát. (Jó nagy.)
Nőies nőt elvből nem hívok meg.
Férfiakat sem. Hozzájuk
én megyek.

De nekik is csak a füleim kellenek.
És a szájak? Be nem állnak.
És a fülem? A fülem, az néma.
Csak a fülbevalómat cserélem néha.
A fülemet, azt nem hagyom.


Telinga

Telingaku seperti sebuah ritual dalam kuil, hingga
Kebisingan merasuk ke dalamnya. Untungnya,
Telingaku besar dan indah
Dalam dan berliku
Seperti pinggul dan buah dada yang ranum

Kesepian menyeruak. Ingin ruh setubuh
Muncul sebagai ibu. Yang menikah, tapi tak berhasrat
Saat kesepian tak bergeming, bahasa mengalir,
Mengajakmu berkelana
Lesbian itu? Tak kunjung datang. Sungguh

Memesona. Tanpa yang lain,
Telingaku bergairah dengan sendirinya. ( Betapa hebatnya telinga-telinga itu)
Tak seorang perempuan pun yang benar-benar datang padamu
Tidak jua lelaki. Aku pergi
Menghampiri mereka

Tapi mereka hanya ingin telingaku
Lalu mulut-mulut itu? Tak berhenti meracau
Lalu telingaku? Telingaku, tetap sunyi
Aku hanya mengganti anting-antingku sesekali
Tetap dalam sepi

(Translated by DA)


Telinga

Jika kedua telingaku sakramen-sakramen, kegaduhan
muncul, berisik di depan mereka. Untung
Aku memiliki telinga besar yang tajam.
mendengung dan mengiang.
Aku merasakan pinggul dan buah dadaku mengembang.

Di sini datang si kesepian. Dia ingin menjerat suamiku.
Di sini datang si istri. Dia sudah kawin, tak peduli.
Ketika dia tak datang, dia belajar bahasa-bahasa,
pengembaraan.
Lesbiankah? Tak datang jua. Meskipun

Aku akan merayunya. Jika dia tak datang, telingaku
akan mengupingnya. (Besar seperti mereka.)
Aku tidak peduli wanita cantik atau tidaknya.
Laki-laki atau tidaknya. Aku pergi
menemui mereka.

Tapi mereka ingin kedua telingaku.
Dan mulut-mulut? Para penggosip yang cerewet.
Dan telingaku? Telingaku torek.
Aku hanya mengganti anting-antingku berkali-kali.
Telingaku, milikku.

(Translated by Bunyamin Fasya)


Telinga

Seolah telingaku menjadi sakramensakramen, sebuah keriuhan
Nampak, nampak di depan mereka. Untunglah
Aku punya telinga baik yang besar.
Bergaung dan bergema.
Pinggul dan payudara mengembang

Di sini datang seseorang yang kesepian. Ia inginkan suamiku.
Di sini datang seorang istri. Ia telah menikah, acuh.
Ketika ia datang, ia belajar bahasa-bahasa
Perjalanan-perjalanan.
Seorang lesbi? Jangan pernah datang. Meskipun

Aku ingin menggodanya. Jika tak ada yang datang
Telingaku akan merecik diri mereka. (Besar seperti mereka)
Aku tidak mengundang perempuan feminin yang mapan.
Atau lelaki manapun. Aku pergi
Menghampirinya.

Tetapi mereka semua ingin telingaku.
Dan mulut-mulut? Pembicara yang ngoceh.
Dan telingaku? Telingaku kini tuli.
Aku hanya merubah pendengaranku dari waktu ke waktu.
Telingaku adalah milikku.

(Translated by Pungkit Wijaya)

Nincsenek megjegyzések:

Megjegyzés küldése